CSR : Sejarah dan Filosofi

Masyarakat bisnis dunia semakin menyadari pentingnya mengambil peran dalam harmonisasi dengan lingkungan sosial dan lingkungan hidup demi keberlanjutan dunia usaha. Harmonisasi tersebut diwujudkan dalam suatu bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan dari perusahaan yang dilakukan secara voluntary atau suka rela dengan penuh kesadaran dari perusahaan. Perusahaan diharapkan mampu memberikan kontribusi yang dapat dirasakan oleh masyarakat, sehingga dapat membantu kualitas hidup masyarakat yang sejalan dengan meningkatnya kegiatan perusahaan.

Hal yang sama pun diharapkan terjadi di masyarakat bisnis Indonesia. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia telah meningkat dalam 10 tahun terakhir dari USD1.076 menjadi USD3.475 (http://bisniskeuangan.kompas.com) dan ini semakin menegaskan posisi Indonesia di mata dunia sebagai negara berkembang yang siap bersaing. Dengan semakin berkembangnya perusahaan, maka mereka pun dituntut secara sukarela untuk bisa lebih memberikan kontribusi bagi masyarakat melalui kegiatan tanggung jawab sosial dan lingkungan atau CSR (Corporate Social Responsibility).

Banyak nama atau istilah muncul dalam perkembangan CSR. Ada yang menamakannya Corporate Social Performance, Sosial Responsibility, Sustainability Development, Social and Environment Responsibility, Creating Shared Value dan berbagai nama lainnya, dengan filosofi yang hampir sama.

CSR mulai dikenal oleh masyarakat ketika Howard R Bowen merilis bukunya Social Responsibilites of The Businessman yang menjadi salah satu buku terlaris di era 1950-1960.  Bowen mengemukakan bahwa kewajiban perusahaan menjalankan usahanya sejalan dengan nilai-nilai dan tujuan yang hendak dicapai masyarakat di tempat perusahaan tersebut beroperasi (Hendrik, Untung, 2008).

Isu CSR pun menjadi bahasan PBB pada tahun 1972 pada konferensi PBB di Stockholm yang salah satunya membahas terkait enviromental protection dan economic development. Kemudian PBB pada tahun 1987 merumuskan konsep Sustainable Development sebagai suatu pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengganggu kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri (The Brundtland Report, 1987).

Konsep yang berkembang kemudian di dunia CSR adalah Triple Bottom Line yang diperkenalkan oleh Elkington (Suharto, 2008) menganut 3 aspek yaitu Profit, Planet dan People. Masih menurut Elkington dijelaskan bahwa perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi belaka (Profit), tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keestarian lingkungan (Planet) dan kesejahteraan masyarakat (People) (Suharto, 2008).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s